Jumat, 27 April 2012

Mawar



Mawar masih terpaku di depan laptopnya. Matanya menelusuri satu demi satu referensi yang ditampilkan Google. Tak puas, Mawar mengubah kata kunci pencarian untuk yang kesekian kalinya.
“Bagaimana? Sudah menentukan pilihan?” tanya Lintang mulai tak sabar. “Seperti apa sih yang kau inginkan?”
“Aku bingung. Aku ingin lokasi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya,“ Mawar memindahkan tatapannya dari layar laptop dan memandang Lintang sahabatnya, berharap mendapat bantuan kali ini. “Menurutmu, lokasi mana yang cocok untukku?”
“Begini saja, pilih saja lokasi yang sebelumnya pernah kamu pakai. Nanti kita ambil gambar dari sudut yang berbeda,” Lintang menyarankan.
Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tak mau ke lokasi yang sama. Aku benar-benar ingin lokasi baru yang tak terkait masa lalu...”
“Mengapa kau tak membicarakannya dengan Indra saja? Bukankah lebih enak kalau kalian menentukannya bersama?” Lintang mencoba mencari jalan keluar lainnya.
“Tidak. Dia menyerahkan pemilihan lokasi ini padaku, supaya aku merasa nyaman katanya...”
Lintang menatap Mawar dengan rasa kasihan. Lintang menyadari kenangan tentang kegagalan itu terus membayangi Mawar. Ini adalah pembuatan foto prewedding ketiga bagi Mawar. Dua rencana pernikahan sebelumnya gagal. Dan penyebab kegagalannya selalu sama. Calon pengantin laki-laki berubah pikiran, merasa tidak yakin hendak bersanding dengan Mawar setelah sesi pemotretan selesai dilakukan. Yah, Mawar selalu merasa canggung di setiap sesi pemotretan, tak bisa berpose mesra. Keadaan yang kemudian menimbulkan rasa curiga, menyulut pertengkaran, dan akhirnya berujung pada perpisahan.
Karenanya pemilihan lokasi pemotretan kali ini menjadi hal penting bagi Mawar. Mawar ingin suasana lokasi pemotretan nanti mampu mendukung hatinya untuk merasa nyaman dan mampu mengusir rasa canggungnya.  
“Mungkin kali ini kau harus memilih lokasi yang jauh. Tidak di Jakarta...Bagaimana dengan Jogja? Malioboro misalnya...” tiba-tiba terbersit ide itu di benak Lintang yang pernah tinggal di Jogja semasa kuliah.
Mata Mawar seketika berbinar-binar. “Ah, benar....Kota budaya yang romantis. Aku suka!”
“Lantas siapa fotografer yang kau pilih? Kau boleh memilih fotografer lain, bila kau ingin hasilnya benar-benar berbeda kali ini?”
Mawar menghela nafas. “Tidak. Aku tetap memilihmu. Fotografer yang tidak kukenal bisa membuatku tak nyaman. Aku selalu nyaman bersamamu...”
Lintang terdiam. Sejurus ditatapnya Mawar. Mawar merasakan tatapan itu berbeda. Dengan perasaan rikuh Mawar menggerakkan kepalanya kembali menghadap layar laptop. Nalurinya mengatakan, mata Lintang masih menatapnya lekat. 
Dan sore itu Mawar mulai meragukan hatinya...
***
Malioboro tak terlampau ramai di awal minggu pagi ini. Beberapa kendaraan lalu lalang dan satu dua pejalan kaki nekat menembus dinginnya pagi. Beberapa becak diam tak bergerak dengan pengemudi yang masih berbalut sarung di dalamnya. Matahari belum tampak benar, hanya sinarnya yang muncul lembut perlahan. Suasana sendu dengan aroma embun yang masih kental.
Mawar, Indra dan Lintang menyusuri ujung Malioboro menuju titik nol kilometer. Ya, hanya mereka bertiga sesuai permintaan Mawar. Mawar tak ingin kehadiran orang lain yang bisa membuatnya canggung. Mereka lantas berbelok sedikit ke arah timur dan berhenti di bawah lampu hias. Di depan mereka berdiri bangunan-bangunan putih nan megah bergaya arsitektur kolonial. Inilah latar belakang indah yang mereka tuju setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari ibukota dengan kereta api.
Berbalut gaun putih selutut dan rambut tergerai rapi dengan sematan bunga putih, Mawar bersiap di bawah lampu hias bergaya etnik jawa. Sementara Indra berdiri gagah berjas kasual. Wajahnya bersih menyimpan senyum. Matanya menyorot tajam, penuh cinta. Mereka bertemu pandang di bawah cahaya lampu kuning keemasan.
Mawar dan Indra pun saling mendekat lantas mengambil pose mesra sepasang kekasih. Tangan-tangan kekar Indra melingkar di pinggang dan bahu Mawar. Sangat mesra untuk diabadikan dan dibingkai sebagai kenangan. Cukup jelas tergambar cinta yang ingin diwujudkan agar dapat dinikmati semua orang.
“Apakah kau merasa nyaman sekarang?” tanya Indra.
Mawar berbisik pelan,“Ya, aku merasa nyaman.”
“Aku akan membuatmu selalu merasa nyaman. Tidak akan pernah kau temukan kenyamanan yang indah selain bersamaku,” kata Indra.
Mawar memejamkan mata. Benarkah dia merasa nyaman bersama Indra?
Namun ketika pemotretan dimulai, Mawar tampak mulai gugup. Berkali-kali Lintang harus menghampiri Mawar untuk membetulkan posisi tubuh dan wajahnya. Keadaan ini semakin membuat Mawar salah tingkah.
“Mawar, dagu kamu agak naik sedikit...” seru Lintang memberikan perintah.
Mawar menaikkan dagunya sedikit. Tapi tampaknya pose Mawar tidak memuaskan Lintang. Lintang lantas mendekat untuk yang kesekian kalinya. Tangannya terulur dengan lembut dan menaikkan dagu Mawar sedikit ke atas, lalu menariknya sedikit ke kanan. Mau tak mau Mawar kembali melirik Lintang. Mata mereka bertemu lagi entah untuk yang keberapa kali sejak mereka berdiri di ujung Malioboro ini.
“Rambut kamu indah, aku rasa sebaiknya sebagian jatuh di bagian depan.” Lintang sekali lagi datang mendekat, menyentuh rambut Mawar dengan halus, mengaturnya sehingga sebagian berjuntai di depan dada dan merapikannya dengan lembut. Jantung Mawar berdegup lebih cepat. Sekuat tenaga Mawar mencoba mengarahkan pandangan ke bola mata hitam kekasih yang  telah meluluhkan hatinya. Tetapi berkali-kali Mawar tak bisa menghindari untuk tidak melirik sosok fotografer yang hadir di antara mereka.
Seusai sesi pemotretan yang berjalan lambat, Lintang berjanji membawa mereka berkunjung ke tempat-tempat menarik di Jogja. Ini memang kunjungan yang pertama bagi Mawar dan Indra di Jogja, jadi ketertarikan mereka sangat besar untuk berkeliling kota ini. Tapi sayang, Indra mendadak harus kembali ke Jakarta setelah dia berdebat hebat melalui ponselnya dengan seseorang di ujung sana.
“Mawar, maafkan aku. Jangan sia-siakan kunjungan ini. Bersenang-senanglah di Jogja. Nanti aku akan menjemputmu sesampainya di Jakarta.” kata Indra menyesal.
Mawar sebenarnya ingin kembali ke Jakarta bersama Indra. Jauh di lubuk hatinya dia  merasa takut sendirian. Takut pada hatinya yang mulai rapuh. Tapi keinginannya untuk singgah di tempat-tempat menarik di Jogja membuatnya bertahan.
***
Senja yang merah di langit Jogja beranjak semakin pekat.
Lintang mengajak Mawar makan malam di sebuah rumah makan khas Jogja untuk menutup akhir perjalanan mereka hari ini. Bangunan rumah makan yang berbentuk rumah Joglo membuat Mawar berdecak kagum. Alunan gamelan yang terdengar pelan ditambah cahaya lampu yang temaram dan semerbak melati semakin menciptakan nuansa budaya tradisional Jawa yang kental.
“Calon suamimu membiarkanmu pergi sendirian?”
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Mawar tergagap. “Dia...dia tak ingin aku menyia-nyiakan kunjungan pertamaku di Jogja.”
“Dia tidak menemanimu?”
“Tidak.”
“Mengapa tidak?”
“Dia ada pekerjaan mendadak.”
“Dan kau setuju untuk bepergian sendirian?”
Mawar menatap mata Lintang tepat pada manik matanya. Salahkah dia bepergian sendirian? Toh, sebenarnya dia tidak benar-benar sendirian.
 “Andai aku di posisinya, tidak akan kutinggalkan kau sedetikpun,” lanjutnya.
Mawar terkesima. Kalimat yang membuat hatinya bergetar karena disertai tatapan mata yang begitu menghanyutkan. Dan Mawar seketika menyadari bahwa tatapan itu bukanlah tatapan seorang sahabat lagi.
“Karena aku...akan sangat menyayangimu hingga tak akan sanggup berpisah denganmu.” katanya lagi.
Mawar tertegun. Hatinya mulai terombang-ambing pada dua rasa yang bergumul di dalam dadanya. “Aku lapar. Aku ingin makan,” gumam Mawar mencoba mengubah suasana yang membuatnya merasa tak nyaman.
Lintang memesan Gudeg untuk mereka berdua. Ditemani dengan wedang jahe yang hangat, menu malam ini harusnya menjadi santapan yang lezat. Tapi Mawar sudah tidak lagi berselera makan. Mawar terus membolak-balikkan hidangan di piring dengan sendoknya dan akhirnya hanya mengambil seujung sendok untuk disuapkan ke mulutnya. 
Sementara Lintang sama sekali tak menyentuh Gudeg di piringnya. Tangannya sibuk memutar-mutar gelas berisi wedang jahe. “Kau gelisah? Memikirkan seseorang?” tanya Lintang.
Mawar terdiam. Pandangannya beralih ke taman yang di terangi cahaya bulan yang pucat. Mungkin dia seharusnya menghadirkan bayangan Indra untuk mengusir galau di hatinya. Tapi mengapa begitu sulit memunculkan bayangan laki-laki itu sekarang ini?
“Aku memikirkanmu. Aku selalu memikirkanmu,” kata Lintang menjawab pertanyaannya sendiri.
Mawar terkejut walaupun secara samar sudah menduganya. Hanya saja Mawar tak percaya Lintang akan mengatakannya selugas ini. “Mengapa harus sekarang?” tanya Mawar tak percaya.
“Lalu kapan lagi?” bisik Lintang dengan nada pelan seakan putus asa.
“Aku sekarang bukan lagi seseorang yang bebas. Aku calon pengantin yang akan menikah beberapa bulan lagi.” Mawar mencoba tenang. Segala sesuatunya harus dikembalikan ke posisi yang benar. Ini rencana pernikahannya yang ketiga dan harus menjadi yang terakhir. Tidak akan ada kegagalan lagi. “Mengapa?” tanya Mawar sekali lagi.
“Naluri.”
Mawar tertegun dengan jawaban Lintang. Naluri. Apakah naluri pula yang membuatnya bersedia keliling Jogja bersama Lintang?
“Bukankah kau selalu nyaman bersamaku?” tanya Lintang menyudutkan.
“Ya. Tapi ini tidak pantas...sudah terlambat...” tegas Mawar. Mawar tiba-tiba menyadari arti kehadiran Lintang di setiap sesi pemotretan preweddingnya. Mungkinkah kehadiran Lintang yang menyebabkan dia selalu merasa canggung?
“Kau tak pernah memberiku kesempatan.” Lintang mengucapkannya dengan dingin. Tatapan matanya meredup. Sorot matanya sarat dengan perasaan yang sekian lama terpendam. Perasaan yang tak pernah terbaca oleh Mawar selama ini.
Jogja mendadak menjadi muram.
Mawar dan Lintang memutuskan untuk berpisah malam itu juga demi mendamaikan perasaan masing-masing. Mawar memilih untuk kembali ke Jakarta dengan kereta api Taksaka malam. Sepanjang perjalanan Mawar mencoba memeriksa hatinya, mengurai rasa pada setiap pertemuan sepanjang tahun-tahun persahabatannya dengan Lintang, menimbang apa yang sedang dirasakannya. Jalur kereta api yang panjang dan berliku akhirnya membuat Mawar tersadar pada pilihan hatinya.
***
Mawar menggigit bibir. Tak tahu harus mulai dari mana untuk mengatakan keputusannya pada Indra. Lelaki itu telah menjanjikan kebahagiaan sepanjang tahun-tahun perkawinan mereka kelak.
Indra menyadari kegelisahan yang tergambar di wajah Mawar. Indra tak ingin percaya pada firasat buruk yang dirasakannya semenjak Mawar pulang dari Jogja. Jauh-jauh hari sebelum rencana pernikahan mereka, Indra sudah mendengar kisah tentang dua rencana pernikahan Mawar yang gagal setelah pembuatan foto prewedding dilakukan. Tapi Indra memilih untuk percaya pada hatinya sendiri. Kini, Indra berusaha menepis pikiran buruk yang muncul di benaknya. Toh, sesi pemotretan foto prewedding kemarin berjalan lancar.
“Aku tidak siap,” kata Mawar pelan.
“Apa maksudmu? Tidak siap menikah denganku?”
Mawar mengangguk pelan.
Indra terperajat. Lantas apa arti kemesraan di sesi pemotretan itu?
Sunyi. Tidak ada suara yang terdengar. Angin pun berhenti berhembus, takut mengusik hati yang remuk redam. Indra menarik nafas panjang. Kenyataan memaksa Indra untuk mengakui memang ada keanehan sepulang Mawar dari Jogja. “Aku kira kalian hanya bersahabat. Tak lebih. Mengapa baru sekarang? Bukankah kalian sudah lama bersama?” tanya Indra akhirnya.
Hening. Mawar merasakan kehampaan sekali lagi dalam hatinya. Tetapi kali ini berbeda. Terasa memalukan menjadi seorang pecundang. Kali ini dialah penyebab kegagalan rencana pernikahan ini. “Maaf...maafkan aku...” gumam Mawar sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Aku merasa tidak mengenalmu setelah kebersamaan kita selama beberapa tahun ini.” ujar Indra lembut.
Mawar tak menyangka lelaki itu masih bisa bersikap lembut padanya. Padahal Mawar sudah siap menerima segala caci maki dari Indra.
 “Memang bukan hal mudah untuk mengambil keputusan. Tapi bagiku, mencintai berarti membuat seseorang bahagia. Yah...mungkin Lintang memiliki sesuatu yang tak kupunya, sesuatu yang dapat membahagiakanmu.”
“Maafkan aku...” bisik Mawar bergetar.
“Sudahlah...jangan ingkari hatimu. Temukan kebahagiaanmu dan aku juga akan merasa sangat bahagia. Aku rela melepasmu...”
Mawar terpana, sungguh tak menduga. Sejenak terbersit keraguan di hatinya, apakah dia akan menemukan hati yang setulus hati Indra? Mawar menatap mata Indra. Sorot mata itu tak lagi tajam, cahayanya sudah tenggelam. Mawar merasakan perih di ulu hatinya.
***
Studio foto Lintang masih sepi. Pintunya bahkan masih tergembok. Mawar memencet bel beberapa kali tapi tak ada tanda-tanda orang di dalamnya. Mawar lantas memutuskan untuk mencoba masuk melalui pintu belakang. Pintu belakang ternyata juga tertutup rapat. Tapi saat Mawar mendorongnya, pintu itu membuka.
Cahaya di ruangan studio foto itu remang-remang. Banyak benda-benda berserakan. Debu dan bau tak sedap menguar dari setiap sudutnya seakan tak pernah berpenghuni. Mawar terus melangkah hingga mendapati Lintang sedang duduk di lantai yang kotor, bersandar di dinding dekat dapur. Tubuhnya tampak lemah, dekil, pucat dengan sebatang rokok yang masih menyala di tangan kirinya.
“Kurasa hatimu sedang tidak enak. Aku pulang saja ya,” kata Mawar hendak beranjak pergi.
“Sepulang kita dari Jogja, aku tak ingin melakukan apapun. Duniaku berhenti berputar.”
“Aku ingin membuat duniamu bergerak lagi.”
Mata Lintang mengerjap. Tak yakin dengan apa yang didengarnya. “Apa yang terjadi?”
“Sama seperti yang pertama dan yang kedua. Tapi kali ini akulah pecundangnya.”
“Apa kau yakin dengan pilihanmu?”
“Mungkin. Sekarang bangkitlah. Pergi mandi setelah itu kita pergi...”
Hening sesaat. Lintang tak juga beranjak dari duduknya. “Apakah dia mencintaimu?”
“Ya...dia sangat mencintaiku.”
“Lalu mengapa dia melepasmu begitu saja?”
“Dia ingin melihatku bahagia dengan laki-laki pilihanku.”
Lintang mendengus. Menatap langit-langit ruangan yang diam membisu. Sesaat kemudian Lintang beranjak menuju kamar mandi. Cukup lama hingga ia keluar dengan wajah yang segar dan aroma wangi.
“Ayo kita pergi...” ajak Mawar.
“Tidak. Aku akan mengantarmu pulang. Kembalilah padanya...Aku tak pernah memintamu meninggalkannya!”
Mawar terkejut dengan jawaban Lintang yang disertai sorot mata dingin menghujam jantungnya.
“Kukira kau...” seru Mawar tak percaya.
Tetapi dengan cepat Lintang memotong ucapan Mawar. “Kau telah keliru memilih aku. Aku tak punya cinta sebesar cinta Indra. Aku tak sanggup menjadi pengantinmu. Kemarin, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku yang telah terpendam sekian tahun padamu. Tidak lebih. Aku tidak pernah berpikir untuk melangkah lebih jauh...”
Mawar merasa terhempas ke bukit karang di tepi pantai. Hatinya retak menjadi serpihan-serpihan kecil tak berbentuk. Mawar tersadar, hatinya telah salah memilih. Dia sedang berada di jalan buntu yang membawanya pada kehancuran.
“Ayo, aku antar pulang...” kata Lintang sambil membuka pintu belakang.

Yogyakarta, September 2011

Selasa, 24 April 2012

Sobia Terakhir



Mimpi itu datang lagi!
Masamah terbangun dengan nafas tersengal. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Entah pukul berapa sekarang, di sekeliling Masamah masih sunyi senyap. Masamah berusaha memejamkan mata kembali berusaha mengusir seraut wajah tua nan sedih yang mampir dalam mimpinya. Mimpi yang sama selama dua tahun dia berada dalam bangunan yang dingin dan gelap ini.
Mata Masamah mengerjap, mengusir air mata yang hampir mengalir turun. Masamah mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dia lantas duduk dan bersandar pada dinding yang lembab, mengucap doa pendek untuk keselamatan wanita dalam mimpinya yang dia panggil ibu.
Masamah termangu lalu teringat pada perkataan ibunya beberapa tahun yang lalu saat mengetahui bahwa dirinya hendak pergi merantau.
“Untuk apa kamu pergi sejauh itu nak? Tak perlu kau kumpulkan uang susah payah...toh semua harta ibu ini juga milikmu.” seru ibunya menghiba. Wanita yang dipanggil ibu itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan wajah sedih. Persis wajah yang muncul dalam mimpinya.
Waktu itu perkataan ibunya bagai angin lalu di telinga Masamah. Cerita tentang gaji besar dan rumah tingkat yang dibangun Latifa, sahabatnya lebih menggiurkan. Jodoh yang tak kunjung datang saat usianya semakin merambat pun membulatkan tekadnya untuk berangkat. Harapan untuk mengumpulkan banyak uang dan bertemu laki-laki impian di perantauan telah memantapkan pilihannya untuk meninggalkan ibunya seorang diri.
Jauh di dalam lubuk hati Masamah, keteguhan hatinya bukanlah semata karena harta dan jodoh saja, tetapi juga karena garis-garis timur tengah yang tergurat samar di wajahnya. Sejak kecil berulang kali dia bertanya pada ibunya tentang asal muasal garis-garis yang tidak ia temukan di wajah ibunya. Tidak juga pada foto lelaki yang disebut ibu sebagai suaminya. Tapi ibunya selalu menjawab dengan berkisah tentang pria gagah perkasa bersorban putih, menunggang unta dengan sepuluh pengawal di belakangnya yang jatuh cinta pada seorang wanita cantik miskin papa. Semula Masamah mengira wanita cantik miskin papa itu adalah dia, wanita yang dia panggil ibu.
Masamah baru mendapatkan jawaban dari ibunya ketika usianya beranjak dewasa. Tepat setelah Masamah mencerca ibunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat wanita tua itu bungkam seketika kehilangan kata untuk meyakinkan anak gadisnya.
“Siapakah orangtuaku, bu? Mengapa tak ada garis-garis kecantikanmu di wajahku? Tidak juga guratan dari lelaki dalam foto itu...Ibu, apakah aku anak yang dibuang?”
“Bukan anak yang dibuang, nak!” kata ibunya tegas. “Engkau memang bukan anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri...tetapi sungguh engkau kulahirkan dari hatiku, nak.”
Sejak ia mendengar jawaban yang dikatakan dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar itu, Masamah tahu kemana dirinya harus melangkah. Masamah ingin pergi, dia berharap bisa membebaskan wanita tua itu dari kewajiban untuk menghidupi dirinya, anak yang bukan anaknya. Masamah bertekad mengembalikan setiap sen yang dikeluarkan wanita tua itu untuk merawat dirinya.
***
Semuanya masih serasa kemarin, saat aku menemukanmu di taman bermain itu. Di antara ayunan, pita warna pink, rambut kucir dua, pipi bulat semerah tomat dan kembang gula di tangan kanan. Semuanya masih terpatri kuat, kenangan sewaktu aku membawamu ke rumah mungilku, di antara remuk redamnya hatiku dan hilangnya belahan jiwa yang kusangka milikku. Gadis kecil yang lucu.
Aku masuk ke kamar depan, saat ingatan tentangmu begitu mendera. Di kamar inilah kukuras airmataku. Kamar ini dulu ruang kerjaku, tempat aku menggosok bertumpuk-tumpuk pakaian yang kuambil dari komplek perumahan di ujung jalan itu. Tetapi sudah lebih dari 25 tahun kamar ini berubah menjadi kamar seorang gadis muda yang dipenuhi burung-burung kertas warna-warni. Dindingnya bercat merah jambu dengan langit-langit penuh pelangi. Sampai sekarang tak banyak yang berubah, kecuali kehampaannya yang mengoyak jantungku.
Ia kuberi nama Masamah Ratri Sukmadewi, bukan semata karena aku orang Jawa. Tetapi demi menghapus garis-garis timur tengah di wajahnya. Bukan aku membenci garis-garis itu, justru terkadang terselip rasa syukur. Garis-garis itu yang membawa dia padaku. Jauh-jauh dari Sukabumi, pemilik rahim yang melahirkannya membawa gadis kecil itu padaku. Menghiba di lututku untuk mengambil gadis itu sebagai anakku setelah tak sanggup lagi mendengar cerca tetangga dan kerabat karena garis-garis Timur Tengah di wajah bocah itu. Garis-garis itu didapatnya dari sang ayah, entah lelaki yang mana. Banyak lelaki di negara Timur Tengah sana dan ibunya tak tahu yang mana tepatnya terlebih dalam gulita yang pekat bagai neraka, apalagi aku.
            Tapi aku mampu menggambarkan sang ayah dengan tepat untuk Masamah setiap kali dia bertanya tentang asal usul garis-garis Timur Tengah di wajahnya. “Ayahmu adalah saudagar minyak di Arab Saudi sana. Menunggang unta di tengah gurun pasir keemasan dengan sepuluh pengawal di belakangnya. Bersorban putih gagah perkasa seperti Alladin layaknya. Laki-laki itu jatuh cinta pada seorang wanita cantik miskin papa.“
Dan kisahku selalu membuat matanya mengerjap dan berbinar senang. Terobati sudah perih luka hatinya akibat sayatan-sayatan dari mulut-mulut tajam yang tak henti mengusiknya. Bila besok luka itu menganga lagi, maka aku pun berkisah tentang negeri 1001 malam, tempat asal lelaki yang disebutnya ayah. Dan mulutnya akan menganga, berharap aku akan mengajaknya ke sana.
Aku tak ingin Masamah memiliki gambaran yang buruk tentang ayahnya. Aku tak pernah membuka rahasia tentang kisah pedih terciptanya dia di dunia ini. Hingga akhirnya dia memaksaku mengatakannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengiris hatiku.
Ah...Masamah, anak yang kulahirkan dari hatiku.
Dan aku sendirian di rumah ini ketika sepucuk surat itu datang. Sepucuk surat yang meremukkan hatiku, sekali lagi...
“Sebaiknya ibu tidak membacanya seorang diri...” begitu pesan laki-laki pengantar surat itu padaku. Aku rasa dia mengamati rumahku yang sunyi sepi. Aku hanya tersenyum mendengar pesannya itu. Aku tak punya siapa-siapa selain Masamah. Dan tak mungkin aku menunggu Masamah untuk menemaniku membaca surat ini. Masamah pergi merantau belum kembali. Karena itu aku meminta laki-laki pengantar surat bernama Kasman itu menemaniku membaca surat yang ia bawa.
 “Maaf bu, saya tidak bisa. Ibu panggil saja saudara atau tetangga untuk menemani...” katanya sambil cepat-cepat beranjak pergi dengan kening berkerut dan tatapan aneh yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Maka segera kubuka surat itu lalu aku membaca kalimat-kalimat resmi di dalamnya lambat-lambat. Aku baca lagi dan lagi, mencoba mencerna satu per satu kalimat-kalimat itu dan berharap aku salah memahaminya.
Aku lantas teringat pada hari aku menemukan Masamah, juga pada wanita yang membawa dia padaku. Aku menatap kedua tanganku yang telah keriput dan gemetar.  Mengapa tangan-tangan ini tak kuasa menahan seorang anak gadis untuk tetap berada di rumah ini? Mengapa Masamah harus menjalani takdir yang lebih kelam dari ibunya? Dan mengapa hatiku harus tercabik untuk kedua kalinya? Aku sudah renta...aku tak ingin menjadi saksi takdir yang kejam ini.
Aku rasa setelah itu aku jatuh pingsan...gelap gulita, tak ingat apa-apa. Aku terbangun sendiri ketika azan maghrib berkumandang. Aku tersadar dengan perasaan yang hampa...
***
Pagi yang sepi.
Wanita di seberang ruang sel Masamah memandang tajam padanya. Wanita itu sebaya dengan Masamah. Jarang mereka bertukar sapa. Masing-masing sibuk dengan perasaannya. Hingga tiba pagi ini, pagi yang dinanti Masamah.  
“Mengapa engkau begitu tenang menghadapi hari ini?”
Masamah tidak menjawab, melainkan menyesap Sobia* dalam sebuah gelas anggur. Tak biasanya memang, Sobia disuguhkan di pagi hari dan bukan pula di bulan puasa. Tetapi Masamah sendiri yang memintanya setengah memaksa sebagai permintaan yang terakhir. Masamah ingin memiliki kekuatan lebih dari minuman yang terbuat dari gandum, roti coklat, kayu manis, gula dan kapulaga itu.
“Tidak juga. Aku masih berperang dengan diriku. Di sini...” jawab Masamah sambil memegang dadanya.
“Apakah kamu menyesal?”
“Tidak. Aku tidak menyesal...Aku punya mimpi yang ingin kuwujudkan.”
“Temani aku...bila saatku tiba.”
Masamah tersenyum mendengar permintaan wanita itu. Wanita yang berasal dari Jawa Barat itu meninggalkan anak-anak dan suami demi cita-cita yang sama dengan dirinya. Bedanya, bila nanti tiba waktunya wanita itu akan ditangisi oleh lebih banyak orang ketimbang dirinya.  Masamah jadi teringat pada wanita yang dipanggilnya ibu. Apakah wanita itu akan menangisinya juga?
Masamah menolak makan. Cukup Sobia saja pintanya. Walaupun tersakiti, Masamah ingin mencicipi sedikit kenikmatan tentang negeri ini dengan menyesap Sobia yang segar. Masamah ingin menyimpan kenikmatan yang dikecapnya seperti dia menyimpan kenangan tentang Rofii, kekasih yang akhirnya ditemukannya di sini, di negeri 1001 malam. Rofii yang tidak menunggang unta, tidak pula bersorban putih. Rofii, sesama perantauan yang punya mimpi sama dengan dirinya.
Rofii pula yang memperkenalkannya pada minuman Sobia di pertengahan Ramadhan beberapa tahun yang lalu. Sobia dingin yang dihantarkan diam-diam untuk melepas dahaga saat berbuka puasa. Biasanya Rofii menghantarkan Sobia merah atau putih. Tetapi suatu kali, Rofii mengiriminya Sobia kismis yang disertai sebuah janji.
 “Segera kita pulang, aku akan meminangmu Masamah!”
Karena itulah Masamah paling suka Sobia kismis, nikmatnya tiada tara. Janji manis itu pula yang membuat Masamah mempertahankan kesuciannya mati-matian walau harus membunuh lelaki Arab majikannya yang menyelinap ke dalam kamarnya.
Sobia yang dingin di pagi hari ini membuat Masamah semakin menggigil. Dan pada tegukan yang terakhir, Masamah memejamkan matanya. Membayangkan sekali lagi wajah wanita yang dipanggilnya ibu. Tak terbayar budi yang ingin dilunasinya, tak juga dapat mengucap maaf sambil mencium kakinya. Masamah menghela nafas, kemudian mencoba membayangkan wajah Rofii untuk yang terakhir kali. Tak sempat terwujud mimpi mereka, tak dapat juga dimilikinya lelaki perkasa yang telah menghangatkan hatinya.
Masamah membuka mata perlahan saat beberapa langkah kaki yang berat datang mendekat. Masamah tahu waktunya telah tiba. Sudah banyakkah orang yang menunggunya di Masjid Qishash? Sakitkah rasanya saat kepala terpisah dari lehernya nanti? Ah...semoga sang algojo telah mengasah pedangnya dengan tajam sehingga maut cepat datang tak memaksanya merasakan pedih.

*Minuman tradisional khas Arab Saudi, pelepas dahaga saat berbuka puasa.


Selasa, 14 Februari 2012

Rumah No. 7


Lampu merah di perempatan Janti mengharuskanku bersabar lagi, setelah sebelumnya lampu merah di simpang lima. Panas aspal yang terbakar terik matahari dan asap knalpot bergulung-gulung membelit setiap orang yang berhenti, menelusup dalam paru-paru dan menyisakan serbuk hitam di setiap pori-pori. Setiap celah di antara mobil-mobil segera dimanfaatkan oleh para pengendara sepeda motor untuk saling mendahului. Tak sabar saling berjejal di garis batas berhenti lampu merah, semua ingin segera meluncur saat lampu merah berganti hijau. Mobil-mobil hanya terpaku pasrah tak mampu berdesakan.

Detik demi detik layar di atas lampu merah menunjukkan hitungan mundur yang ditatap setiap mata nyaris tanpa kedip. Tepat ketika sampai di angka satu, bunyi klakson-klakson bergema memekakkan telinga. Sedetik kemudian semuanya saling berlomba mendobrak pembatas yang tak kasat mata.

Segera kupacu sepeda motor tua di antara deretan pohon-pohon flamboyan. Aku sudah hafal benar jalan ini. Setelah sampai di ujung jalan dengan deretan pohon-pohon flamboyan di kiri kanannya, aku segera membelok ke arah kiri. Tak lama, gapura perumahan Kemuning Asri terlihat semakin membesar. Pos satpam yang kulewati tak kuhiraukan, penghuninya pun mengabaikanku.

Seperti biasa penghuni rumah No.7 segera membuka pintu pagar untukku dengan senyum mengembang dan mata berbinar berselubung kabut rindu. Tanganku terulur menyampaikan sepucuk surat untuknya dan mata kami saling menatap untuk sesaat.

“Macetkah di jalan?” Ia bertanya.

“Iya, seperti biasa.”

“Duduklah sejenak untuk hilangkan penat.”

Aku segera duduk dan melempar senyum untuknya. Sesaat dia masuk ke dalam dan keluar dengan membawa sebuah baki berisi segelas teh hangat dan sepiring nasi serta lauk pauknya.

“Ayo dimakan...aku membuat sayur asem untukmu...”

“Terimakasih...”

Aku makan dalam diam. Menikmati lima belas menit menghela nafas sebelum kembali ke tengah aspal. Mencecap setiap gurih, asem, dan pedas dalam racikan yang kurasa tanpa cela, sayur asem, sambal terasi dan dua potong tempe goreng. Dia tersenyum mengamatiku. Suasana perumahan yang sepi semakin menenggelamkan kami di antara batang-batang anggrek ungu dan putih yang bergoyang-goyang.

Dia masih seperti saat awal kami bertemu dan hari-hari ketika kami berjumpa, diam tak banyak kata tetapi sorot matanya penuh makna. Hanya segaris senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Sesekali memang pernah dia bercerita. Cerita-cerita bahagia yang membuat matanya berbinar-binar lantas meredup tiba-tiba. Tapi segaris senyum itu tak pernah hilang meski matanya tak lagi bersinar. Segaris senyum yang menyimpan rasa pahit seperti hatinya, kurasa.

***

Sudah lebih dari sepuluh tahun aku bekerja sebagai kurir pengantar paket dan surat. Aku sudah biasa mengantar paket dan surat untuk kawasan perkantoran hingga perkampungan pinggiran kota dengan rumah-rumah yang berjejal. Tetapi tugas yang paling kusukai adalah mengirimkan sebuah paket dan sebuah surat ke perumahan Kemuning Asri. Sebab di perumahan itu, dua wanita sudah menungguku.

Awalnya, aku hanya mengantar sebuah paket di perumahan Kemuning Asri ini. Tepatnya ke rumah blok B No.11. Paket ini untuk seorang ibu tua. Darinya aku memperoleh cerita bahwa paket itu berisi jamu pengobat sakitnya. Karena itu aku tak pernah berlambat-lambat mengantarkan paket untuk dia. Binar-binar bahagia selalu terpancar dari kedua mata ibu tua yang sudah menantiku di teras rumahnya. Langkah kaki yang tertatih-tatih membuka pintu pagar, lantas tangan keriputnya terulur menerima paket dariku dengan perlahan dan gemetar.

Tetapi kira-kira setahun terakhir ini pekerjaanku bertambah. Sepucuk surat di akhir bulan harus kuantar ke rumah di blok B No. 7 di perumahan yang sama. Dulu rumah itu tak kuperhatikan walau setiap kali mengantar paket ke rumah No.11 aku selalu melewatinya. Sewaktu aku mengantar surat pertama kali baru kusadari, di balik anggrek ungu dan putih yang rimbun itu sesosok wanita duduk membisu.

Senyumnya merekah saat aku mengantarkan surat berwarna coklat untuk pertama kali. Bahkan senyumnya berubah menjadi tawa tertahan saat membaca nama pengirimnya. Tak terkira bahagianya kurasa hingga segelas teh hangat disuguhkannya untukku. Aku duduk diam menemaninya membaca surat beraroma kayu manis itu.

Dan di bulan kedua di saat aku mengantarkan surat yang sama, aku memperoleh lagi segelas teh hangat, kali ini disertai kudapan. Dan mulailah kami bertukar sapa setelah dia menikmati suratnya dengan pipi merah merona. Ah, aku rasa surat itu dari kekasihnya walau dia tak pernah mengatakannya kepadaku.

Di bulan-bulan selanjutnya tak hanya teh hangat dan kudapan yang kudapat. Tetapi beragam masakan yang dibuat dengan tangannya sendiri, ditambah tegur sapa yang semakin hangat dan tawa yang renyah di antara lelucon yang kubuat.

Sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang biasa saja. Pakaiannya terbilang sederhana dan selalu bermotif bunga-bunga didominasi warna merah hati. Tubuhnya tak terlalu tinggi, tapi kulitnya kuning bersih terawat. Tutur katanya hanya satu dua saja, namun dengan suara yang lembut menawan. Tak seorang pun kulihat di rumah No.7 itu kecuali dia seorang ditemani batang-batang anggrek ungu dan putih yang rimbun.

Tetapi entahlah bertukar sapa dengannya walau hanya beberapa menit saja mampu menghilangkan penatku. Entah apa yang membuatku tertahan, teh hangat yang disajikannya, nasi beserta lauk pauk dengan citarasa sempurna, rambut sepinggang yang hitam bergelombang atau bola mata sendu yang sarat rindu.

Yah, tugasku mengantar sepucuk surat berwarna coklat beraroma kayu manis yang selalu tiba tepat waktu seperti halnya paket jamu untuk rumah No.11. Sepucuk surat penawar rindu yang dinanti sepenuh jiwa, seperti juga sepaket jamu penyambung nyawa. Dan karenanya, aku gigih menelusup di antara mobil-mobil yang bertumpuk di lampu merah, mencari celah untuk berada di garis terdepan, berlomba untuk menjadi yang pertama saat lampu berganti warna. Aku selalu ingat bahwa tepat di hari Rabu pada setiap minggu keempat setiap bulannya, dua wanita menungguku. Akulah penyambung nyawa dan juga penyambung jiwa mereka, kurasa. Mereka menyambutku dengan mata berbinar dan melepasku dengan senyum mengembang.

***

Begitulah, senja menggulung hari berganti fajar mengurai pagi. Wanita di rumah No. 7 masih setia menantiku membawakan surat berwarna coklat beraroma kayu manis. Beragam makanan telah disajikannya untukku. Setiap kali tak pernah sama namun dengan keramahan yang tak pernah berbeda. Aku tak bisa menjelaskan hubungan kami ini. Aku hanya ingin menikmatinya saja, tak ingin mengingat yang lain. Terkadang aku berharap si pengirim surat mengirimkan surat berwarna coklat itu lebih sering lagi, tak hanya sebulan sekali. Surat berwarna coklat beraroma kayu manis itu tak hanya menyambung jiwa penerimanya, tapi juga menghangatkan jiwa pengantarnya.

Hingga sesuatu terjadi...

Benih-benih ketakutan yang sebelumnya pernah kupikirkan akhirnya bertunas juga. Tulang belulangku lemah lunglai dan darahku mengering seiring hujan yang tak lagi turun, angin yang berhembus kencang dan daun-daun flamboyan yang jatuh berguguran di sepanjang jalan menuju perumahan Kemuning Asri.

Hari itu di kantor aku memastikan ke bagian administrasi tentang surat berwarna coklat beraroma kayu manis. Jawabannya sangat jelas memang tapi tak bisa kuterima dengan lapang hati. Surat itu tidak ada. Tidak ada yang harus kuantar untuk rumah No.7, hanya sebuah paket untuk rumah No.11. Ah, kurasa si pengirim sedang sibuk atau bepergian ke luar kota atau sedang sakit atau...entahlah.

Dan siang itu terasa menyakitkan untukku dan juga untuk dia. Tak bisa kututup mataku saat melihatnya berdiri dan berjalan ke pagar rumahnya ketika suara sepeda motor tuaku menderu mendekat. Tertangkap ekor mataku, matanya begitu berbinar-binar dan senyumnya mengembang seperti biasa. Tetapi kemudian matanya meredup sayu dan langkahnya gontai kembali ke teras saat melihat aku terus melaju menuju rumah No.11. Dan setelah mengantarkan paket ke rumah No.11, aku tak mendapatinya lagi di teras. Hanya batang-batang anggrek ungu dan putih yang bergoyang penuh nestapa.

Waktu itu aku berharap bulan depan surat berwarna coklat beraroma kayu manis itu akan muncul lagi. Tetapi ternyata tidak. Tidak hingga bulan ini, bulan yang kesembilan aku tak melihatnya duduk di balik batang-batang anggrek ungu dan putih.

***

Bagaimana aku meraciknya? Cukup sederhana sebenarnya walau membuatku terjaga sepanjang malam, rautnya yang sedih melekat di pelupuk mataku. Aku menyelinap di pagi buta saat istriku masih terlelap dan dua anakku masih bermain dalam mimpinya. Aku membasuh wajahku dengan embun dari dedaunan. Lantas aku mencari potongan bulan yang tersisa, kutahu wajahnya pasti terukir di sana. Kemudian kuambil kertas berwarna putih bersih, kutorehkan pena di atasnya. Bukan rayuan, tapi ungkapan hati terdalam untuk jiwa yang terbalut sepi seorang diri. Sepucuk surat itu lantas kumasukkan ke dalam amplop berwarna coklat dengan sepotong kayu manis di dalamnya.

Dan saat matahari bergantung tepat di atas kepala, aku bergegas menembus puluhan mobil dan sepeda motor yang kurasakan semakin merapat menghalangi lajuku. Tak tahukah mereka, aku membawa penyambung jiwa yang sedang sekarat?

Gapura perumahan Kemuning Asri akhirnya tampak di depan mata ketika dadaku tak lagi mampu menahan rindu yang memburu. Namun semakin mendekat baru kusadari, kerumunan yang kulihat dari kejauhan berpusat di rumah No.7 itu.

Kabarnya pemilik rumah menancapkan belati tepat di ulu hati subuh tadi, menyisakan batang-batang anggrek ungu dan putih bergoyang sepi. Aku masih berdiri menggenggam surat berwarna coklat beraroma kayu manis berbaur dalam kerumunan. Dan segera kusadari saat kedua kakiku mulai gemetar, kini jiwaku yang terbalut sepi.