Tuesday, April 7, 2015

9 Tips Menikah Bahagia

1.       Jangan menikah karena wajah yang rupawan, sebab manusia bisa menua, penuh keriput, lalu tidak lagi menawan

2.       Jangan menikah hanya karena calon mertuamu baik dan menyayangimu, sebab engkau hidup tidak bersama mertuamu melainkan terikat dengan suamimu

3.       Jangan menikah dengan harapan engkau bisa mengubah pasanganmu, sebab dia bukan sebangsa anjing yang bisa kau latih sesukamu

4.       Menikahlah dengan pria yang bersedia mengejar impian bersamamu

5.       Menikahlah dengan pria yang bersedia hidup susah dan bukannya merengek kembali ke pangkuan ibunya ketika kesusahan hidup menghampiri

6.       Menikahlah dengan pria yang mengerti perasaanmu hanya dengan melihat sorot di matamu

7.       Menikahlah dengan pria yang menahan diri untuk tidak membentak-bentakmu setidaknya di depan orang lain

8.       Menikahlah dengan pria yang tanpa diminta selalu bersedia menemanimu di kala sakit, tanpa beranjak sedikit pun dari sisimu

9.       Menikahlah dengan pria yang tak membuatmu mempertanyakan lagi arti cinta setelah tahun demi tahun pernikahan berlalu

Sayang, pria seperti itu sekarang ini sangat sulit ditemukan. 
Nyaris mustahil. 
Lebih-lebih setelah salah satunya memilih untuk menikah denganku…^_^




Wednesday, August 6, 2014

Manja Sampai Tua


Semua orangtua pasti tak ingin punya anak yang manja. Sayangnya, orangtua seringkali tak sadar bahwa sikap merekalah yang membentuk seorang anak menjadi manja bahkan sampai masa tuanya. Saat masih kecil, sikap manja seorang anak paling-paling hanya membuat orangtuanya kerepotan memenuhi permintannya. Namun jika dibiarkan terus, saat usianya bertambah sikap manja ini akan memicu hal-hal yang negatif. Sikap manja yang sudah melekat sesungguhnya sulit dihilangkan. Bahkan setelah tumbuh dewasa dan menikah, sikap manja ini akan tetap terlihat. Orang-orang dewasa yang terbiasa dimanja biasanya memiliki sikap-sikap seperti ini: 

Kurang peka
Kepekaan yang kurang ini tak lain dikarenakan di sepanjang hidupnya ia sudah terbiasa dilayani dan dipenuhi segala keinginannya. Ia tak penah benar-benar susah payah meraih apa yang ia inginkan, termasuk saat menyelesaikan suatu masalah di dalam hidupnya. Selalu saja ada anggota keluarga yang datang menolong entah karena kasihan karena melihatnya tak biasa berada dalam keadaan susah. Ketidakpekaan ini juga terlihat jelas saat ia tak bisa melihat penderitaan orang lain. Ia tak bisa bersimpati dengan keadaan yang dialami orang lain.

Malas
Seseorang yang terbiasa dipenuhi segala kebutuhannya sudah tentu tak perlu lagi berusaha keras melakukan suatu pekerjaan. Lama kelamaan keadaan ini membuatnya malas. Ia lebih baik menunggu uluran tangan orang lain daripada harus bekerja banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kecerdasan emosional rendah
Seseorang yang malas bukan berarti ia tidak punya teman. Justru mereka ini biasanya memiliki teman yang banyak. Tetapi hubungan pertemanan lantas berubah seperti hubungan majikan dan bawahan. Ia lebih banyak “meminta” kepada teman-temannya daripada memberi. (Sumber)



Missy Mavrick 

Some of you are spoiled. Just the bottom line, your parents have done everything for you. We’re going to keep it real tonight. Some of you are spoiled brats. Every time you ever got in trouble, someone in your house got you out of it! Every time you did something you were not suppose to do, your parents got you out of it.





Tuesday, July 29, 2014

Saya, Si Introvert


Pagi ini saya punya dorongan kuat untuk mengenali diri sendiri. Dorongan ini bukan tanpa alasan. Beberapa hari ini saya menghadapi masalah dalam pergaulan. Nah, dari hasil browsing barulah saya menyadari bahwa karakter introvert dalam diri saya begitu kuat. Karena itulah saya tampak berbeda dari orang-orang kebanyakan. Orang-orang yang memiliki karakter introvert ini disebut sebagai kaum minoritas dalam masyarakat. Seketika saya menarik nafas lega. Ini saya. Pantas saya tak banyak menemukan orang yang seperti saya. Pantas saya merasa berbeda dari kebanyakan orang di sekeliling saya. Pantas banyak orang menyebut saya sebagai pribadi yang sulit.


Berikut ini ciri-ciri karakter introvert dan hampir semuanya cocok dengan karakter saya. Tujuan saya menulis seperti ini tak lain supaya saya bisa memahami diri sendiri dan juga syukur-syukur orang-orang yang ada di sekeliling saya memahami karakter ini. Saya bukan orang aneh. Karakter yang ada pada diri saya semata-mata pemberian Tuhan yang Maha Kuasa, bukan kehendak saya. Percayalah, saat Anda menganggap saya sebagai pribadi yang sulit, saya pun merasa kesulitan dengan karakter ini. Tapi saya mau bagaimana lagi. Sang Pemberi Kehidupan memilihkan karakter ini untuk saya. 
  
1.      Tidak suka berbasa-basi
Sungguh saya bukan orang yang suka basa-basi. Dulu semasa bujang, saya sangat menikmati keadaan ini. Tak ada orang yang memaksa saya untuk berbasa-basi. Tetapi setelah menikah, mau tak mau saya harus berbasa-basi demi pasangan saya. Saya harus berbasa-basi dengan tetangga kiri kanan, dengan mertua, beberapa saudara, ibu-ibu PKK dan juga istri teman-teman pasangan saya.

Kalau menurut saya, ya saya cukup berhasil. Tiap bulan saya rajin arisan dengan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal. Sesekali ke rumah mertua dan berbasa-basi di sana atau bertemu dengan saudara-saudara suami. Mau tahu rasanya? Sangat melelahkan. Seluruh energi saya seperti tersedot. Di ulu hati rasanya kering setiap kali sehabis bertemu orang banyak. Kepala saya seperti melayang. Saya tersiksa dengan keadaan ini dan dengan keharusan untuk berbasa-basi setiap kali. Hari ini saya tahu, tidak ada yang salah dengan diri saya. Sayalah, si introvert. 

2.      Terasing di keramaian
Memasuki tahun-tahun pernikahan, hidup saya berubah. Suami saya sering mendapat undangan dan itu artinya saya harus menemani. Entah undangan perkawinan, undangan buka puasa bersama, undangan halal bihalal dan masih banyak lagi lainnya.

Mau tahu rasanya? Saya merasa seperti ikan di atas tanah. Gelisah, bingung dan waktu berjalan seperti siput, lambat sekali. Saya tersiksa, sangat tersiksa. Saya tidak nyaman berada di antara begitu banyak orang yang tertawa-tawa, berbicara, berbasa-basi tiada henti. Di tahun-tahun awal pernikahan saya masih memaksakan diri untuk datang. Tetapi sekarang saya memilih untuk menolak dan memilih satu dua undangan yang benar-benar mengharuskan saya untuk datang. Sebab saya selalu merasa terasing di tengah hiruk pikuk. Inilah saya, si introvert.

3.      Lebih suka berada dalam kelompok kecil
Banyak orang yang bilang, saya pribadi yang sulit. Saya sedih menangkap kesan itu dari mata kalian atau mendengar saat kalian berbisik-bisik seperti itu. Saya bisa diajak bicara tetapi dalam kelompok kecil. Saat ada banyak orang, saya cenderung diam. Coba sini duduk di samping saya, menghabiskan waktu beberapa jam bersama pasti ada hal-hal baru yang bisa digali tentang saya. 
 
4.       Berpikir terlalu dalam
Suami saya yang paling sering memprotes saat saya masih membahas sesuatu hal selama berhari-hari. “Itu lagi yang dibahas?”, “Masih mikir yang itu lagi?” Begitulah komentarnya berulang kali. Saya menyadari hari ini, itulah salah satu karakter introvert. Saya memikirkan sesuatu hal secara mendalam. Tak cukup sehari, bahkan berminggu-minggu untuk hal-hal yang sepele sekalipun.

Karakter ini sudah pasti menyiksa saya. Lebih-lebih saya tinggal di pemukiman Jawa, berkerabat dengan orang-orang Jawa, bersuamikan orang Jawa dengan mertua dan saudara-saudaranya yang orang Jawa. Apa hubungannya dengan orang Jawa? Hubungannya sangat erat sekali. Sebagian besar orang Jawa itu pintar sekali berbasa-basi, suka sekali menyampaikan sesuatu dengan cara menyindir. Buat orang-orang kebanyakan melontarkan perkataan-perkataan itu demikian mudah. Tapi pahamilah, apa yang kalian katakan menghabiskan energi saya. Karena perkataan-perkataan itu membayangi saya, menghantui saya, menyiksa saya hingga berbulan-bulan. Padahal kalian sudah lupa yang kalian ucapkan. Inilah saya, si introvert itu. 

5.      Menyendiri
Saya suka sekali menyendiri. Saya tidak suka orang yang berkunjung mendadak ke rumah saya. Mungkin ini terdengar aneh. Tapi inilah saya, si introvert ini. Saya nyaman dalam kesunyian, sendiri tanpa teman.

Ini berkebalikan dengan karakter extrovert. Extrovert bereaksi berlebih sehingga banyak orang yang mengetahui ketika sesuatu hal terjadi padanya. Sedangkan introvert lebih memilih diam dalam banyak keadaan. Ini terbukti ketika di penghujung tahun 2013 saya harus menjalani pengobatan yang cukup berat. Tidak ada satu pun kerabat kami yang tahu, hanya saya dan suami. Tapi itu justru membuat proses penyembuhan saya berlangsung cepat dan saya merasa nyaman.

6.       Memiliki pasangan extrovert
Saya menyadari ini sejak lama bahwa suami saya memiliki karakter yang berkebalikan dengan saya. Suami saya sangat mudah menerima orang lain. Dia bisa berteman dengan siapa saja, bicara dengan hangat dengan siapa pun tak peduli apapun tanggapan orang lain tentangnya. Terkadang saya merasa menghambat langkahnya terutama ketika dia menginginkan saya ada disampingnya padahal saya tidak nyaman berada di lingkungannya. Inilah saya si introvert dan kebanyakan introvert memiliki pasangan extrovert persis seperti suami saya. 

7.      Ahli dalam satu bidang
Betul memang. Seorang introvert biasanya menguasai satu bidang dan jarang menguasai banyak bidang. Itulah saya, hanya satu bidang yang membuat saya nyaman selama ini…menulis!

8.      Tidak mau menerima sembarang telepon
Ciri-ciri karakter introvert yang satu ini membuat saya tersenyum. Karena saya sering melakukannya. Jika ada panggilan telepon masuk dari nomor tak dikenal, pasti saya tidak akan menerimanya. Tapi tak semua panggilan telepon dari orang-orang yang saya kenal akan saya terima. Cukup sering saya mengabaikan telepon dari teman-teman saya. Rasanya malas saja berbicara tanpa ada kejelasan topik yang dibahas.

9.       Memperhatikan hal-hal kecil yang tidak diperhatikan orang lain
Betul sekali. Sayalah orangnya yang memperhatikan cara orang menatap, cara orang berbicara, cara orang melempar senyum pada saya dan hal-hal kecil lainnya. Saya mencerna semuanya itu dan memberikan penilaian. Terkadang saya langsung menutup diri begitu mendapati hal-hal tersembunyi dari seseorang. Tapi tak jarang saya tertarik untuk mendekat ketika mendapati hal-hal menarik dalam diri seseorang. 

10.   Lebih tua dari usianya
Karena suka membaca dan mencerna banyak hal, jadilah seorang introvert lebih dewasa dari umurnya. Ciri karakter introvert yang ini sudah saya kenali sejak dulu. Bahkan terkadang-kadang saya masih terheran-heran mendapati pikiran saya yang begitu jauh ke depan. Sayangnya, sulit mendapatkan teman berbicara yang cocok dengan pikiran yang seperti ini. 

11.   Tidak merasa “tinggi” dari lingkungannya
Saya tahu beberapa orang yang pernah bertemu dengan saya menganggap saya sombong dan angkuh. Saya memang jarang tersenyum lebar. Saya jarang menatap orang berlama-lama kecuali ketika sedang berbicara berduaan. Mau tahu apa yang sebenarnya saya rasakan? Saya merasa diri saya berbeda dengan kalian. “Berbeda” bukan lebih tinggi levelnya atau lebih rendah. Saya merasa “berbeda” itu saja. Seperti kucing di tengah kawanan domba. Itulah saya, si introvert. 

12.   Penulis
Seorang introvert lebih senang menulis daripada berbicara. Itulah saya. Saya tidak bisa menjelaskan sepanjang ini ketika kita bertemu. Tapi saya bisa menuliskannya supaya kalian bisa membacanya. Dengan cara ini saya cuma berharap kalian mengerti saat saya menarik diri, saat saya diam, saat saya menolak mengangkat telepon atau kalian kunjungi secara mendadak. 

Beberapa tokoh besar dunia memiliki karakter introvert ini seperti J.K Rowling, Mahatma Ghandi, Albert Einstein, Bill Gates, Michael Jordan, Julia Roberts, dan Nicole Kidman. Saya tak berharap menjadi salah satu dari tokoh besar dunia ini. Saya cuma berharap dimengerti. Saya bukan orang aneh atau berpenyakit. Saya hanyalah si introvert.





Berikut beberapa referensi tentang introvert: link 1,link 2, link 3
 

Wednesday, June 25, 2014

Katanya Cinta...

Sebuah cerita sederhana tentang seseorang yang begitu mengharapkan seekor kucing di dalam hidupnya. Ia berupaya keras dengan segala cara untuk mendapatkan seekor kucing yang cantik. Tentu saja harga kucing yang cantik ini cukup mahal, tak seperti kucing kampung yang cukup diberi ikan lalu mendekat. Ia harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar bisa membeli kucing cantik berbulu tebal dan panjang dengan mata seindah berlian.

Suatu kali ia berhasil membeli kucing cantik itu, hatinya gembira luar biasa. Sebagai pengguna media sosial Facebook yang aktif, ia segera saja berkoar-koar tentang kucing cantik yang baru beberapa hari dimilikinya. Kucing itu di foto dalam berbagai pose lalu di-upload di Facebook. Status-statusnya di Facebook tak pernah lepas seputar kucing dan kucing. Teman-temannya di Facebook pada awalnya memberikan respon yang ramah atas foto kucing yang cantik dan status-status terbaru tentang kucing itu. Tapi lama kelamaan sebagian teman mulai muak juga dan mengabaikannya.

Suatu ketika pemilik kucing ini memasang status di Facebook yang cukup menyedihkan. Ternyata kucing cantiknya hilang. Tak sampai seminggu kucing itu dimiliki, seseorang telah mengendap diam-diam di tengah malam dan mencuri kucing itu. Sejak itu pula, teman-temannya di Facebook disuguhi dengan status sedih dan keluh kesahnya karena kehilangan kucing yang disayangi. Pada awalnya, teman-temannya turut merasa prihatin dan menghiburnya tapi lama kelamaan mereka bosan juga melihat status yang itu-itu saja.

Tapi agaknya orang ini tak putus asa setelah kehilangan kucingnya yang pertama. Ia kembali mengumpulkan uang untuk membeli kucing lainnya. Setelah beberapa lama akhirnya ia berhasil membeli seekor kucing cantik berbulu abu-abu. Bulunya begitu tebal dan panjang dengan bola mata hitam menyorot tajam. Seperti ketika ia berhasil membeli kucing yang pertama, ia pun segera mempublikasikan kucingnya di Facebook. Setiap gerakan si kucing selalu di foto lalu di-upload di Facebook. Teman-temannya bisa melihat bagaimana kucing abu-abu itu makan, tidur, menggeliat, menatap, berjalan, berlari, kecuali buang air.

Seperti kucingnya yang pertama, banyak teman-teman Facebook yang memuji kecantikan si kucing abu-abu. Tapi lama kelamaan mereka akhirnya merasa bosan dengan foto-foto si kucing dan status-status tentang si kucing. Namun pemilik kucing ini sepertinya tak peduli, ia terus meng-upload foto-foto si kucing dan membuat status-status berkaitan dengan kucingnya. Hingga pada suatu hari, ada seorang pencinta kucing yang memberi komentar di bawah salah satu foto kucing tersebut. Berikut ini komentarnya,
"Nona cantik, kucingmu sungguh cantik rupawan. Tapi sayang, di masa-masa awal foto-foto kucing ini di-upload saya melihat kucing ini begitu gemuk, sehat dan ceria. Sorot matanya begitu hidup penuh dengan kegembiraan. Namun kini sorot mata itu begitu sendu dan badannya lambat laun menjadi kurus, bulu-bulunya pun tampak semakin menipis. Apa yang terjadi padanya?"

Sayangnya, komentar tersebut sepertinya diabaikan. Pemilik kucing itu terus meng-upload foto-foto si kucing dengan penampilan yang semakin kusut. Status-status tentang kucing tersebut pun masih terus muncul seakan tidak terjadi sesuatu hal yang berbeda. Suatu kali, pecinta kucing itu kembali berkomentar. Kali ini ia berkomentar dengan tajam tanpa mempedulikan sopan santun lagi.
"Hei, nona cantik! Kau sama sekali tak menyayangi kucingmu. Sebaiknya kau segera memberikannya kepada orang lain atau menjualnya saja sebelum kucing itu mati kurus. Kau hanya sibuk berceloteh, membuat status tentang kucingmu dan memfotonya dalam berbagai pose tapi kau tidak merawatnya. Kau tidak memberikan makanan yang terbaik, kau tidak memberikan rumah yang nyaman untuknya berteduh, dan kau tak pernah membelainya! Tugas memberi makan dan minum kau serahkan pada pembantumu lalu kau datang sekali dua kali untuk mengambil fotonya! Terlalu...!"

Eheeemm....cerita yang sederhana tentang kucing ini berakhir sampai di sini. Entah bagaimana nasib kucing itu. Terakhir kali melihat fotonya, mata kucing itu masih menyorot sayu. Mungkin si pembantu lupa memberinya makan dan si empunya masih sibuk membuat status-status tentang kucingnya. Tolong, kalau kau kenal dengannya ingatkan dia. Katanya cinta....katanya sayang...





Tuesday, June 10, 2014

Seperti Sekeping Puzzle




Keping-keping puzzle berhamburan berharap untuk disusun. Si penyusun puzzle mengambil dan meletakkan setiap keping puzzle pada tempatnya masing-masing. Tapi saat satu keping tersisa, si penyusun puzzle baru menyadari bahwa ada puzzle yang salah tempat. Padahal jika satu atau dua keping puzzle salah tempat, maka puzzle itu tak akan bisa terselesaikan. Puzzle yang salah tempat harus dibongkar, dicabut dari tempatnya dan digeser ke tempat yang tepat. Jika setiap keping puzzle telah menempati posisi yang tepat, maka terjadi keharmonisan. Rahasia puzzle akan terbuka dan menampilkan sebuah gambar cantik yang bisa dinikmati semua orang. 

Begitu juga hidup ini…

Seseorang yang berada di tempat yang salah akan membuat situasi di sekelilingnya menjadi tidak harmonis. Orang yang salah tempat pun akan merasa tidak nyaman. Ia hidup terbebani, dibalut kesedihan, dirundung masalah, dikepung kebencian. Seandainya ia bisa dipindah ke tempat yang tepat, tentu dunia akan menjadi harmonis. Orang ini pun akan menemukan tempat dimana ia seharusnya berada. Tempat yang mau menerima dirinya apa adanya. Tempat yang sangat cocok untuknya, tempat yang memberi kenyamanan.

Tapi sayang, hidup ini tak seperti sekeping puzzle yang mudah dicabut dan dipindahkan. Hidup ini punya aturannya sendiri. Sebuah aturan yang kejam. Sekali melangkah salah, sekali menempatkan diri dan ternyata salah, tidak ada jalan untuk kembali kecuali bertahan. Bertahan dan bersabar ditempat yang salah hingga saatnya tiba. Entah sampai kapan.