Luna Lestari
A piece of my stories, a slice of my life and a half of my imagination
Jumat, 27 April 2012
Mawar
Selasa, 24 April 2012
Sobia Terakhir
Selasa, 14 Februari 2012
Rumah No. 7
Lampu merah di perempatan Janti mengharuskanku bersabar lagi, setelah sebelumnya lampu merah di simpang lima. Panas aspal yang terbakar terik matahari dan asap knalpot bergulung-gulung membelit setiap orang yang berhenti, menelusup dalam paru-paru dan menyisakan serbuk hitam di setiap pori-pori. Setiap celah di antara mobil-mobil segera dimanfaatkan oleh para pengendara sepeda motor untuk saling mendahului. Tak sabar saling berjejal di garis batas berhenti lampu merah, semua ingin segera meluncur saat lampu merah berganti hijau. Mobil-mobil hanya terpaku pasrah tak mampu berdesakan.
Detik demi detik layar di atas lampu merah menunjukkan hitungan mundur yang ditatap setiap mata nyaris tanpa kedip. Tepat ketika sampai di angka satu, bunyi klakson-klakson bergema memekakkan telinga. Sedetik kemudian semuanya saling berlomba mendobrak pembatas yang tak kasat mata.
Segera kupacu sepeda motor tua di antara deretan pohon-pohon flamboyan. Aku sudah hafal benar jalan ini. Setelah sampai di ujung jalan dengan deretan pohon-pohon flamboyan di kiri kanannya, aku segera membelok ke arah kiri. Tak lama, gapura perumahan Kemuning Asri terlihat semakin membesar. Pos satpam yang kulewati tak kuhiraukan, penghuninya pun mengabaikanku.
Seperti biasa penghuni rumah No.7 segera membuka pintu pagar untukku dengan senyum mengembang dan mata berbinar berselubung kabut rindu. Tanganku terulur menyampaikan sepucuk surat untuknya dan mata kami saling menatap untuk sesaat.
“Macetkah di jalan?” Ia bertanya.
“Iya, seperti biasa.”
“Duduklah sejenak untuk hilangkan penat.”
Aku segera duduk dan melempar senyum untuknya. Sesaat dia masuk ke dalam dan keluar dengan membawa sebuah baki berisi segelas teh hangat dan sepiring nasi serta lauk pauknya.
“Ayo dimakan...aku membuat sayur asem untukmu...”
“Terimakasih...”
Aku makan dalam diam. Menikmati lima belas menit menghela nafas sebelum kembali ke tengah aspal. Mencecap setiap gurih, asem, dan pedas dalam racikan yang kurasa tanpa cela, sayur asem, sambal terasi dan dua potong tempe goreng. Dia tersenyum mengamatiku. Suasana perumahan yang sepi semakin menenggelamkan kami di antara batang-batang anggrek ungu dan putih yang bergoyang-goyang.
Dia masih seperti saat awal kami bertemu dan hari-hari ketika kami berjumpa, diam tak banyak kata tetapi sorot matanya penuh makna. Hanya segaris senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Sesekali memang pernah dia bercerita. Cerita-cerita bahagia yang membuat matanya berbinar-binar lantas meredup tiba-tiba. Tapi segaris senyum itu tak pernah hilang meski matanya tak lagi bersinar. Segaris senyum yang menyimpan rasa pahit seperti hatinya, kurasa.
***
Sudah lebih dari sepuluh tahun aku bekerja sebagai kurir pengantar paket dan surat. Aku sudah biasa mengantar paket dan surat untuk kawasan perkantoran hingga perkampungan pinggiran kota dengan rumah-rumah yang berjejal. Tetapi tugas yang paling kusukai adalah mengirimkan sebuah paket dan sebuah surat ke perumahan Kemuning Asri. Sebab di perumahan itu, dua wanita sudah menungguku.
Awalnya, aku hanya mengantar sebuah paket di perumahan Kemuning Asri ini. Tepatnya ke rumah blok B No.11. Paket ini untuk seorang ibu tua. Darinya aku memperoleh cerita bahwa paket itu berisi jamu pengobat sakitnya. Karena itu aku tak pernah berlambat-lambat mengantarkan paket untuk dia. Binar-binar bahagia selalu terpancar dari kedua mata ibu tua yang sudah menantiku di teras rumahnya. Langkah kaki yang tertatih-tatih membuka pintu pagar, lantas tangan keriputnya terulur menerima paket dariku dengan perlahan dan gemetar.
Tetapi kira-kira setahun terakhir ini pekerjaanku bertambah. Sepucuk surat di akhir bulan harus kuantar ke rumah di blok B No. 7 di perumahan yang sama. Dulu rumah itu tak kuperhatikan walau setiap kali mengantar paket ke rumah No.11 aku selalu melewatinya. Sewaktu aku mengantar surat pertama kali baru kusadari, di balik anggrek ungu dan putih yang rimbun itu sesosok wanita duduk membisu.
Senyumnya merekah saat aku mengantarkan surat berwarna coklat untuk pertama kali. Bahkan senyumnya berubah menjadi tawa tertahan saat membaca nama pengirimnya. Tak terkira bahagianya kurasa hingga segelas teh hangat disuguhkannya untukku. Aku duduk diam menemaninya membaca surat beraroma kayu manis itu.
Dan di bulan kedua di saat aku mengantarkan surat yang sama, aku memperoleh lagi segelas teh hangat, kali ini disertai kudapan. Dan mulailah kami bertukar sapa setelah dia menikmati suratnya dengan pipi merah merona. Ah, aku rasa surat itu dari kekasihnya walau dia tak pernah mengatakannya kepadaku.
Di bulan-bulan selanjutnya tak hanya teh hangat dan kudapan yang kudapat. Tetapi beragam masakan yang dibuat dengan tangannya sendiri, ditambah tegur sapa yang semakin hangat dan tawa yang renyah di antara lelucon yang kubuat.
Sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang biasa saja. Pakaiannya terbilang sederhana dan selalu bermotif bunga-bunga didominasi warna merah hati. Tubuhnya tak terlalu tinggi, tapi kulitnya kuning bersih terawat. Tutur katanya hanya satu dua saja, namun dengan suara yang lembut menawan. Tak seorang pun kulihat di rumah No.7 itu kecuali dia seorang ditemani batang-batang anggrek ungu dan putih yang rimbun.
Tetapi entahlah bertukar sapa dengannya walau hanya beberapa menit saja mampu menghilangkan penatku. Entah apa yang membuatku tertahan, teh hangat yang disajikannya, nasi beserta lauk pauk dengan citarasa sempurna, rambut sepinggang yang hitam bergelombang atau bola mata sendu yang sarat rindu.
Yah, tugasku mengantar sepucuk surat berwarna coklat beraroma kayu manis yang selalu tiba tepat waktu seperti halnya paket jamu untuk rumah No.11. Sepucuk surat penawar rindu yang dinanti sepenuh jiwa, seperti juga sepaket jamu penyambung nyawa. Dan karenanya, aku gigih menelusup di antara mobil-mobil yang bertumpuk di lampu merah, mencari celah untuk berada di garis terdepan, berlomba untuk menjadi yang pertama saat lampu berganti warna. Aku selalu ingat bahwa tepat di hari Rabu pada setiap minggu keempat setiap bulannya, dua wanita menungguku. Akulah penyambung nyawa dan juga penyambung jiwa mereka, kurasa. Mereka menyambutku dengan mata berbinar dan melepasku dengan senyum mengembang.
***
Begitulah, senja menggulung hari berganti fajar mengurai pagi. Wanita di rumah No. 7 masih setia menantiku membawakan surat berwarna coklat beraroma kayu manis. Beragam makanan telah disajikannya untukku. Setiap kali tak pernah sama namun dengan keramahan yang tak pernah berbeda. Aku tak bisa menjelaskan hubungan kami ini. Aku hanya ingin menikmatinya saja, tak ingin mengingat yang lain. Terkadang aku berharap si pengirim surat mengirimkan surat berwarna coklat itu lebih sering lagi, tak hanya sebulan sekali. Surat berwarna coklat beraroma kayu manis itu tak hanya menyambung jiwa penerimanya, tapi juga menghangatkan jiwa pengantarnya.
Hingga sesuatu terjadi...
Benih-benih ketakutan yang sebelumnya pernah kupikirkan akhirnya bertunas juga. Tulang belulangku lemah lunglai dan darahku mengering seiring hujan yang tak lagi turun, angin yang berhembus kencang dan daun-daun flamboyan yang jatuh berguguran di sepanjang jalan menuju perumahan Kemuning Asri.
Hari itu di kantor aku memastikan ke bagian administrasi tentang surat berwarna coklat beraroma kayu manis. Jawabannya sangat jelas memang tapi tak bisa kuterima dengan lapang hati. Surat itu tidak ada. Tidak ada yang harus kuantar untuk rumah No.7, hanya sebuah paket untuk rumah No.11. Ah, kurasa si pengirim sedang sibuk atau bepergian ke luar kota atau sedang sakit atau...entahlah.
Dan siang itu terasa menyakitkan untukku dan juga untuk dia. Tak bisa kututup mataku saat melihatnya berdiri dan berjalan ke pagar rumahnya ketika suara sepeda motor tuaku menderu mendekat. Tertangkap ekor mataku, matanya begitu berbinar-binar dan senyumnya mengembang seperti biasa. Tetapi kemudian matanya meredup sayu dan langkahnya gontai kembali ke teras saat melihat aku terus melaju menuju rumah No.11. Dan setelah mengantarkan paket ke rumah No.11, aku tak mendapatinya lagi di teras. Hanya batang-batang anggrek ungu dan putih yang bergoyang penuh nestapa.
Waktu itu aku berharap bulan depan surat berwarna coklat beraroma kayu manis itu akan muncul lagi. Tetapi ternyata tidak. Tidak hingga bulan ini, bulan yang kesembilan aku tak melihatnya duduk di balik batang-batang anggrek ungu dan putih.
***
Bagaimana aku meraciknya? Cukup sederhana sebenarnya walau membuatku terjaga sepanjang malam, rautnya yang sedih melekat di pelupuk mataku. Aku menyelinap di pagi buta saat istriku masih terlelap dan dua anakku masih bermain dalam mimpinya. Aku membasuh wajahku dengan embun dari dedaunan. Lantas aku mencari potongan bulan yang tersisa, kutahu wajahnya pasti terukir di sana. Kemudian kuambil kertas berwarna putih bersih, kutorehkan pena di atasnya. Bukan rayuan, tapi ungkapan hati terdalam untuk jiwa yang terbalut sepi seorang diri. Sepucuk surat itu lantas kumasukkan ke dalam amplop berwarna coklat dengan sepotong kayu manis di dalamnya.
Dan saat matahari bergantung tepat di atas kepala, aku bergegas menembus puluhan mobil dan sepeda motor yang kurasakan semakin merapat menghalangi lajuku. Tak tahukah mereka, aku membawa penyambung jiwa yang sedang sekarat?
Gapura perumahan Kemuning Asri akhirnya tampak di depan mata ketika dadaku tak lagi mampu menahan rindu yang memburu. Namun semakin mendekat baru kusadari, kerumunan yang kulihat dari kejauhan berpusat di rumah No.7 itu.
Kabarnya pemilik rumah menancapkan belati tepat di ulu hati subuh tadi, menyisakan batang-batang anggrek ungu dan putih bergoyang sepi. Aku masih berdiri menggenggam surat berwarna coklat beraroma kayu manis berbaur dalam kerumunan. Dan segera kusadari saat kedua kakiku mulai gemetar, kini jiwaku yang terbalut sepi.
| Reactions: |


